Kayuh Dari Dewata Hingga Lombok

Perjalanan yang tidak terencana dengan sempurna. Hanya butuh sehari untuk mempersiapkan. Kamis malam diajak, Jumat sore, setelah pulang kantor, langsung kayuh.

Saat itu (Maret 2017), sebenarnya peralatan tempur untuk sampai Pulau Lombok belum lah lengkap. Maka dari itu, dengan senang hati, salah satu senior yang berada di kantor membawakan tas saya. Panggil saja Pak Tut. Orang yang ramah dan memberikan banyak motivasi kehidupan.

I Ketut Sweca Agus Artawan

Perjalanan yang ditempuh tidak seberat yang diperkirakan. Posisi awal memang sudah tidak terlalu jauh dengan pelabuhan penyeberangan ke Lombok (Pelabuhan Padang Bai). Sesuai jarak yang tertera di aplikasi peta online, perlu 31 km untuk bisa sampai lokasi. Jalan yang ditempuh juga tidak terlalu ekstrem. Malah, untuk berangkat banyak jalanan yang menurun. Perkiraan sekitar 4 km yang membutuhkan tenaga khusus.

Total melewati tiga kabupaten. Gianyar, Klungkung, dan Karangasem. Jalan yang dilewati merupakan rute paling cepat dan banyak dilalui pengendara motor.

Ketakutan saya yang paling nyata adalah anjing lewat di jalan. Hal yang jadi ‘momok’ ketika bersepeda. Apalagi untuk rute kali ini mengambil waktu di malam hari. Tepat ketika berangkat pukul 17.30 WITA. Perkiraan untuk sampai di pelabuhan adalah pukul 19.30 WITA. Yap, perjalanan yang terhitung sangat lambat. Rata-rata pada kecepatan 15 km per jam.
Selama perjalanan banyak kendaraan pengangkut roda enam lebih. Ya emang. Hehehe. Karena ini jalur penghubung antar Provinsi Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Melewati Pintu Masuk Pelabuhan Padang Bai

Tak terasa perjalanan telah sampai. Capek? Saya rasa tidak. Hehe. Bukan sok kuat karena memang ini tidak terlalu jauh.
Sampai di sana, langsung mencari musholla. Ini bukan hal pertama bagi saya berada di sini. Jadi saya tidak terlalu bingung dengan letak beberapa tempat di sini.

Hanya butuh waktu menunggu sekitar 30 menit akhirnya masuk ke kapal. Kejadian lucu ketika masuk di loket pembayaran. Bapak petugas loket sempat kebingungan untuk menentukan tarif sepeda. “Maaf, Mas. Bentar ya” ujar bapaknya untuk mencari daftar karcis yang berada di loket sebelah.
Bagi saya, perjuangan justru berada di dalam kapal. Butuh waktu empat jam apabila lancar. Yaa, hitungan paling lama adalah lima jam.
Untung senior yang sangat pengertian ini memberi dukungan dengan tepat. Membawa beberapa makanan ringan yang penuh kalori. Lumayan untuk membunuh lapar ini sesaat.

Tips : apabila melakukan penyeberangan kapal Bali – Lombok bawa alas untuk tidur. Jaga-jaga sebagai alas tidur. Hemat 30 ribu daripada sewa kasur kapal

Pil obat antimo menjadi teman yang paling manjut untuk menemani selama perjalanan. Entah jadi apa kalau tidak minum itu – bagai seonggok kayu bakar yang kopong kelimpungan.

Terlelap dalam goyangan nahkoda (ketika perjalanan balik)

Ketika kapal akan bersandar dan menurunkan jangkarnya, diriku segera tersadar. Melihat sekeliling dan menyadari Pak Tut sudah bangun – entah itu sudah bangun atau tidak tidur sama sekali – anyway, terima kasih sekali lagi.
Meskipun kala itu itu mentari masih malu untuk menampakkan jati dirinya, diriku harus segera berkemas untuk ke luar dari kapal. Menggunakan sarung tangan dan pelindung deker, ku bersiap, my loovvvv~~~

Dengan kekuatan tenaga engkol kaki ku mencoba menjauh dari dermaga yang masih gelap. Seketika teringat ketika kuliah dulu pernah mbolang dengan si matik dengan 5 kawanan. Menembus desiran dinginnya embun pagi, melintasi jalan yang masih sepi yang sesekali diisi oleh truk dan beberapa motor.

 

Konon, di jalur ini rawan dengan begal. Bujegilleeee, siapa yang kagak takut kan ya. Ah, tapi ku tetap yakin, bermodalkan kawan yang menemani ku sudah siap dengan semuanya. JOTOS-JOTOSAN. AYO KENE!

 

Perjalanan pun terasa singkat. Merasakan keringat kebahagiaan yang ruarr biasa. Meskipun keadaan sepeda saat itu memakai ban denga motif batik yang tebal dan ternyata itu, terasa kerasa sekali (ha?)

Ini merupkan kali kedua perjalanan ke Lombok. Tahun 2015, bersama teman kuliah, pernah berkelana menyusuri Pulau Lombok. Beberapa sudut dari pulau ini, bagiku, sudah tak asing. Seakan flashback dengan momen kala itu.

Tak lupa, Pak Sweca mengajak ke beberapa tempat wisata yang belum pernah ku kunjungi.

Mata Air Dan Pemandian Suranadi

Lokasi : Mata Air Dan Pemandian, Suranadi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Taman Narmada

Lokasi : Taman Narmada, Lembuak, Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Matur suksma, Pak Sweca telah mengajak dan memperbolehkan untuk ikut ke Lombok

 

Bertanya, berkomentar itu tidak berbayar

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: